Minggu, 27 Juli 2008

HUBUNGAN PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN PRESTASI KOGNITIF SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.

HUBUNGAN PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN PRESTASI KOGNITIF SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.

(Studi Penelitian di SMA Negeri 24 Bandung)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan teknologi informasi beberapa tahun belakangan ini berkembang dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga dengan perkembangan ini telah mengubah paradigma masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi, yang tidak lagi terbatas pada informasi surat kabar, audio visual dan elektronik, tetapi juga sumber-sumber informasi lainnya yang salah satu diantaranya melalui jaringan Internet.

Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi ini adalah bidang pendidikan, dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasi-informasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan dan materi pendidikan serta peserta didik itu sendiri. Beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi, sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang e-learning (Utomo, 2001 : 14 ) e-Learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika,khususnya perangkat komputer (Soekartawi, 2003 : 4 ). Karena itu e-learning sering disebut juga dengan on-line course. ( Adri M , 2008 : 2)

Dalam tataran aplikasi beberapa institusi pendidikan khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA) telah mencoba menerapkan e-learning sebagai media pengajaran bagi seluruh siswanya. . Dalam berbagai literature e-learning tidak dapat dilepaskan dari

jaringan Internet, karena media ini yang dijadikan sarana untuk penyajian ide dan gagasan pembelajaran. Dulu mungkin kita berpikir bahwa belajar harus dalam ruang kelas. Dengan kondisi dimana guru atau dosen mengajar di depan kelas sambil sesekali menulis materi pelajaran di papan tulis. Beberapa puluh tahun yang lalu pun juga telah dikenal pendidikan jarak jauh. Walaupun dengan mekanisme yang dibilang cukup “sederhana” untuk ukuran sekarang, tetapi saat itu model tersebut sudah dapat membantu orang-orang yang butuh belajar atau mengenyam pendidikan tanpa terhalang kendala geografis. Memang kita akui, sejak ditemukannya teknologi internet, hampir “segalanya” menjadi mungkin. Kini belajar tak hanya anywhere, tapi sekaligus anytime dengan fasilitas e-learning yang ada. ( Harry B Santoso :2007 :1)

Berbagai pengertian tentang e-learning saat ini sebagian besar megacu pada pembelajaran yang menggunakan teknologi internet. Sebagaimana yang dikemukakan Warto Adi Nugraha yang mengutip pendapat Rosenberg yang menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), dan Kamarga (2002) yang intinya menggunakan media internet dalam pendidikan sebagai hakikat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002 : 3 ) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi internet. Senada dengan pendapat Wahono yang mengutip Darin E. Hartley mengemukakan bahwa: e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain. LearnFrame.Com dalam Glossary of e-learning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa: e-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer maupun komputer stand alone.(Wahono, 2005 :2 )

Selain komputer masih terdapat alat-alat elektronik lainnya yang digunakan sebagai media pembelajaran, misalnya radio, tape audio/video, tv interaktif, CDrom, LCD Proyektor, maupun OHP. Sebelum internet ditemukan, alat-alat tersebut sudah terlebih dulu digunakan sebagai media pembelajaran statis maupun interaktif. Para Mahasiswa di perguruan tinggi bahkan menggunakan tape recorder untuk merekam ceramah dosen di kelas untuk didengarkan dilain waktu. Para dosen menggunakan OHP untuk mempresentasikan materi kuliahnya kepada mahasiswa sehingga hanya menuliskan materi di papan tulis seperlunya saja. Para dosen pun dapat memberikan salinan dokumen materi kuliah dan referensi dalam bentuk CD kepada mahasiswanya untuk dipelajari dirumah. Media-media elektronik tersebut sangat membantu mahasiswa agar bisa lebih menguasai materi kuliah.

Pengertian e-learning yang sederhana namun mengena dikatakan oleh Maryati, e-learning terdiri dari dua bagian yaitu e- yang merupakan singkatan dari elektronika dan learning yang berarti pembelajaran. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer (.Maryati 2007: 5) Terdapat kata “khususnya komputer” pada akhir kalimat yang memberikan pengertian bahwa komputer termasuk alat elektronik disamping alat pembelajaran elektronik yang lain.

Terkait masalah e-learning tersebut Maman Soemantri mengemukakan bahwa ;

istilah e-learning terinspirasi oleh istilah e-mail yang lebih dulu popular yaitu electronic mail (surat menyurat melalui internet). E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer. Dengan dikembangkannya di jaringan komputer memungkinkan untuk dikembangkan dalam bentuk berbasis web, sehingga kemudian dikembangkan ke jaringan komputer yang lebih luas yaitu internet, inilah makanya system e-learning dengan menggunakan internet disebut juga internet enabled learning. Penyajian e-learning berbasis web ini bisa menjadi lebih interaktif. Informasi-informsai perkuliahan juga bisa real-time. Begitu pula dengan komunikasinya, meskipun tidak secara langsung tatap muka, tapi forum diskusi pembelajaran dan perkuliahan bisa dilakukan secara online dan real time. System e-learning ini tidak memiliki batasan akses, inilah yang memungkinkan perkuliahan bisa dilakukan lebih banyak waktu. Kapanpun mahasiswa bisa mengakses sistem ini. Aktifitas perkuliahan ditawarkan untuk bisa melayani seperti perkuliahan biasa. Ada penyampaian materi berbentuk teks maupun hasil penyimpanan suara yang bisa di download, selain itu juga ada forum diskusi, bisa juga seorang dosen memberikan nilai, tugas dan pengumuman kepada mahasiswa. (Soemantri, 2004: 12)

Dari definisi yang dikemukakan oleh Maman Soemantri tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pembelajaran menggunakan teknologi internet memiliki karakteristik – karakteristik khusus yang menjadikannya berbeda dengan media elektronik lainnya. Media elektronik lain hanya sebagai alat bantu pembelajaran yang bersifat pasif, Sedangkan internet merupakan alat bantu pembelajaran yang bersifat interaktif, karakteristik tersebut meliputi:

1. Informasi real time

2. Interaksi dosen-mahasiswa (Pendidik dan Peserta didik) secara langsung walau tanpa tatap muka

3. Forum diskusi online

4. Dapat diakses kapan saja dan dimana saja

5. Penyampaian dan pengumpulan tugas secara online

6. Penyampaian pengumuman administrasi perkuliahan dan jadwal secara online

( Warto 2007 : 3 )

Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran islam secara meyeluruh. Kemudian menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan,serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.(Zakiah Darajat 1998:87) Adapun esensi dari pendidikan yaitu adanya proses transfer nilai pengetahuan dan keterampilan dari generasi tua ke generasi muda agar generasi muda mampu hidup (Qodry Azizy 2002: 19). Oleh karena itu pendidikan agama Islam mencakup dua hal, yaitu; (1) Mendidik siswa untuk berprilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak islam. Dan (2) Mendidik siswa untuk mempelajari materi ajaran Islam berupa pengetahuan tentang ajaran Islam.

Salah satu konsep dasar Islam yang mewajibkan seluruh pemeluknya mempelajari Islam secara integral dan komprehensif ialah;

ﻜﺎﻔﺔ ﺍﻠﺴﻠﻢ ﻔﻰ ﺍﺪﺨﻠﻮﺍ ﻤﻨﻮﺍ ﻴﻦ ﻠﺬ ﻴﻬﺎ ﻴﺎ

Wahai orang-orang yang beriman,masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh”(Qs.Al-Baqarah (2) : 208).

Dengan demikian penggunaan media elektronik yang dapat membantu efektifitas proses belajar mengajar merupakan salah satu substansi yang dapat mengantarkan siswa muslim dapat mempelajari islam secara lebih komprehensif. Selain itu, petunjuk prinsip dasar Islam merupakan suatu konsep pengetahuan dalam pendidikan agama Islam yang harus diketahui dan dipahami oleh peserta didik, sehingga dapat membantu pengamalan ajaran Islam secara integral. Dalam artian apek kognitif siswa berperan penting dalam proses pendidikan agama Islam.

Namun dalam perkembangannya masih dijumpai kendala dan hambatan untuk mengaplikasikan sistem e-learning ini, antara lain : (a) Masih kurangnya kemampuan menggunakan Internet sebagai sumber pembelajaran; (b) Biaya yang diperlukan masih relativ mahal untuk tahap-tahap awal; (c)Belum memadainya perhatian dari berbagai pihak terhadap pembelajaran melalui Internet dan (d)Belum memadainya infrastruktur pendukung untuk daerah-daerah tertentu (Soekartawi, 2003 : 2 ).

Dari uraian permasalahan diatas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan penggunaan media internet terhadap prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam. Untuk merealisasikan permasalahan ini dirumuskanlah sebuah penelitian dengan judul; HUBUNGAN PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN PRESTASI KOGNITIF SISWA PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. (Studi Penelitian di SMA Negeri 24 Bandung)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, muncul beberapa permasalahan yang menjadi substansi pokok dalam penelitian ini,yaitu;

  1. Bagaimana Realitas Penggunaan Internet Sebagai Media Pembelajaran di SMA Negeri 24 Bandung?
  2. Bagaimana Realitas prestasi kognitif siswa pada bidang studi PAI di SMA Negeri 24 Bandung ?
  3. Bagaimana Hubungan penggunaan Internet sebagai media pembelajaran dengan prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada rumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  1. Realitas Penggunaan internet sebagai media pembelajaran di SMA Negeri 24 Bandung.
  2. Realitas prestasi kognitif siswa SMA Negeri 24 Bandung pada bidang studi PAI.
  3. Realitas hubungan penggunaan internet sebagai media pembelajaran dengan prestasi kognitif siswa SMA Negeri 24 Bandung pada bidang studi PAI.

D. Kerangka Pemikiran

Penelitian ini memiliki dua variabel, yaitu Variabel X ( penggunaan internet sebagai Media pembelajaran) dan Variabel Y ( prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam). Variabel pertama,yaitu penggunaan internet sebagai media pembelajaran,

Penggunaan Internet sebagai media pembelajaran tidak terlepas dari penggunaan komputer sebagai media komplementer dalam aplikasi program internet. Dimana Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran.

Menurut AECT (Association of Education and Communication Technology) yang dikutip oleh Sadiman (1986 : 6) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi”. Senada dengan Gagne (1970: 499) menyatakan bahwa; “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar”.

Sedangkan pengertian media menurut Djamarah (1995 : 13) “media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”.

Selanjutnya ditegaskan oleh Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu :
media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”.
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997 :17). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media.(Ouda, 2008 ).

Pembelajaran yang dibantu komputer dikenal dengan nama CAI yaitu “Computer Assited Instruction” . Prinsip pembelajaran ini menggunakan komputer sebagai alat bantu menyampaikan pelajaran kepada user secara interaktif. Perubahan metode pembelajaran dan pengajaran telah menyebabkan alat yang digunakan menjadi meluas, misalnya: video, audio, slide dan film. CAI merupakan penggunaan komputer secara langsung kepada siswa untuk menyampaikan isi pelajaran, memberikan latihan dan mengetes kemajuan belajar siswa. ( Nurita P, 2008 )

CAI juga bermacam-macam bentuknya bergantung kecakapan pendesain dan pengembang pembelajarannya, bisa berbentuk permainan (games), mengajarkan konsep-konsep abstrak yang kemudian dikonkritkan dalam bentuk visual dan audio yang dianimasikan. Jadi CAI adalah penggunaan komputer sebagai alat bantu dalam dunia pendidikan dan pengajaran. CAI membantu siswa memahami suatu materi dan dapat mengulang materi tersebut berulang kali sampai ia menguasai materi itu. Dalam penggunaan komputer untuk pembelajaran, menurut Hefzalah yang dikutip oleh Rusman menyarankan empat strategi pembelajaran yang dapat diterapkan, yaitu:

1. Praktek dan Latihan

2. Tutorial

3. Simulasi dan Demontrasi

4. Permainan (Games)

Adapun bentuk-bentuk penggunaan komputer sebagai media pembelajaran menurut Rusman terbagi menjadi 2 yakni; sebagai Multimedia prestasi, dan Multimedia interaktif.

a) Multi Media Presentasi

Multimedia presentasi digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang sifatnya teoritis, digunakan dalam pembelajaran klasikal dengan group belajar yang cukup banyak diatas 50 orang. Media ini cukup efektif sebab menggunakan multimedia projector yang memiliki jangkauan pancar cukup besar. Kelebihan media ini adalah menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, image, grafik dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa.

( Rusman , 2007 : 3-4)

b) Multimedia interaktif

CD interaktif dapat digunakan pada pembelajaran di sekolah dasar sebab cukup efektif meningkatkan hasil belajar siswa terutama komputer. Sifat media ini selain interaktif juga bersifat multi media terdapat unsur-unsur media secara lengkap yang meliputi sound, animasi, video, teks dan grafis. Beberapa model multimedia interaktif berbasis komputer yaitu :

�� Model Drill

Model drills dalam CBI pada dasarnya merupakan salah satu starategi pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih kongkrit melalui penciptan tiruan-tiruan bentuk pengalaman yang mendekati suasana yang sebenarnya. Biasanya dalam bentuk latihan soal-soal.

�� Model Tutorial

Program CBI tutorial dalam merupakan program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan perangkat lunak berupa program komputer yang berisi tujuan, materi pelajaran dan evaluasi pembelajaran. Metode Tutorial dalam CBI pola dasarnya mengikuti pengajaran Berprograma tipe Branching dimana informasi/mata pelajaran disajikan dalam unit-unit kecil, lalu disusul dengan pertanyaan dan respon jawaban dari komputer..

�� Model Simulasi

Model simulasi dalam CBI pada dasarnya merupakan salah satu starategi pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih kongkrit melalui penciptaan simulasi-simulasi dalam bentuk pengalaman yang mendekati suasana yang sebenarnya.

�� Model Games:

Model permainan ini dikembangkan berdasarkan atas “pembelajaran yang menyenangkan”, dimana peserta didik akan dihadapkan pada beberapa petunjuk dan aturan permainan. Dalam konteks pembelajaran sering disebut dengan Instructional Games.

( Eleanor.L Criswell, 1989:20)

Penggunaan komputer dalam proses belajar membuat siswa dapat melakukan kontrol terhadap aktivitas belajarnya. Penggunaan komputer dalam lembaga pendidikan jarak jauh memberikan keleluasaan untuk menentukan kecepatan belajar dan memilih urutan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan.

Kemampuan komputer untuk menayangkan kembali informasi yang diperlukan oleh pemakainya, yang diistilahkan dengan "kesabaran komputer", dapat membantu siswa yang memiliki kecepatan belajar lambat. Dengan kata lain, komputer dapat menciptakan iklim belajar yang efektif bagi siswa yang lambat (slow learner), tetapi juga dapat memacu efektivitas belajar bagi siswa yang lebih cepat (fast learner).Disamping itu, komputer dapat diprogram agar mampu memberikan umpan balik terhadap hasil belajar dan memberikan pengukuhan (reinforcement) terhadap prestasi belajar siswa. Dengan kemampuan komputer untuk merekam hasil belajar pemakainya (record keeping), komputer dapat diprogram untuk memeriksa dan memberikan skor hasil belajar secara otomatis. Komputer juga dapat dirancang agar dapat memberikan preskripsi atau saran bagi mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar tertentu. Kemampuan ini mengakibatkan komputer dapat dijadikan sebagai sarana untuk pembelajaran yang bersifat individual (individual learning). ( Heinich 1986: )

Keuntungan pembelajaran menggunakan media komputer antara lain :
1. Pembelajaran berbantuan komputer bila dirancang dengan baik, merupakan media pembelajaran yang efektif, dapat memudahkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran
2. Meningkatkan motivasi belajar siswa
3. Mendukung pembelajaran individual sesuai kemampuan siswa
4. Dapat digunakan sebagai penyampai balikan langsung
5. Materi dapat diulang-ulang sesuai keperluan, tanpa menimbulkan rasa jenuh
( Sirojudin 2007 : 3 )

Internet merupakan jaringan global yang menghubungkan beribu bahkan berjuta jaringan komputer (local/wide area network) dan komputer pribadi (stand alone), yang memungkinkan setiap komputer yang terhubung kepadanya bisa melakukan komunikasi satu sama lain (Brace, 1997). Jaringan ini bukan merupakan suatu organisasi atau institusi, karena tak satu pihakpun yang mengatur dan memilikinya.

Brace juga menyebutkan Internet sebagai suatu "kesepakatan", karena untuk bisa saling berhubungan dan berkomunikasi setiap komputer harus menggunakan protokol standar yaitu TCP/IP ( Transmission Control Protocol/Internet Protocol) yang disepakati bersama. Dengan kata lain meskipun suatu komputer terhubung ke dalam jaringan Internet, tetapi kalau ia tidak menggunakan standar komunikasi pengiriman dan penerimaan yang telah disepakati tersebut, tetap saja ia tidak bisa melakukan komunikasi.

( Hardjito, 2007 )

Awalnya Internet lahir untuk suatu keperluan militer Amerika Serikat. Pada awal tahun 1969 Avanced Research Project Agency (ARPA) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, membuat suatu eksperimen jaringan yang diberi nama ARPAnet untuk mendukung keperluan penelitian (riset) kalangan militer. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya jaringan ini dipergunakan untuk keperluan riset perguruan tinggi, yang dimulai dengan University of California, Stanford Research Institute dan University of

Utah (Cronin,1996 ).

Fasilitas aplikasi Internet cukup banyak sehingga mampu memberikan dukungan bagi keperluan militer, kalangan akademisi, kalangan media massa, maupun kalangan bisnis. Fasilitas tersebut seperti Telnet, Gopher, WAIS, e-mail, Mailing List (milis), Newsgroup, File Transfer Protocol (FTP), Internet Relay Chat, World Wide Web (WWW)

( Purbo ; 2007 )

Di antara keseluruhan fasilitas Internet tersebut terdapat lima aplikasi standar Internet yang dapat dipergunakan untuk keperluan pendidikan (Purbo, 1997), yaitu e-mail, Mailing List (milis), Newsgroup, File Transfer Protocol (FTP), dan World Wide Web (www).

Internet sebagai salah satu media pembelajaran akan mempermudah proses belajar mandiri bagi siswa sebagaimana dikemukakan cobine yang dikutip rusman,

Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran mengkondisikan siswa untuk belajar secara mandiri. “Through independent study, students become doers, as well as thinkers” (Cobine, 1997). Para siswa dapat mengakses secara online dari berbagai perpustakaan, museum, database, dan mendapatkan sumber primer tentang berbagai peristiwa sejarah, biografi, rekaman, laporan, data statistik, (Gordin et. al., 1995). Informasi yang diberikan server-computers itu dapat berasal dari commercial businesses (.com), goverment services (.gov), nonprofit organizations (.org), educational institutions (.edu), atau artistic and cultural groups (.arts).

( Rusman 2007: 2)

Penggunaan Internet untuk keperluan pendidikan yang semakin meluas terutama di negara-negara maju, merupakan fakta yang menunjukkan bahwa dengan media ini memang dimungkinkan diselenggarakannya proses belajar mengajar yang lebih efektif. Hal itu terjadi karena dengan sifat dan karakteristik Internet yang cukup khas, sehingga diharapkan bisa digunakan sebagai media pembelajaran sebagaimana media lain telah dipergunakan sebelumnya seperti radio, televisi, CD-ROM Interkatif dan lain-lain.

Strategi pembelajaran yang menunjang efektifitas pembelajaran meliputi pengajaran, diskusi, membaca, penugasan, presentasi dan evaluasi, secara umum keterlaksanaannya tergantung dari satu atau lebih dari tiga mode dasar dialog/komunikasi sebagai berikut (Boettcher 1999 ):

Ø Dialog/komunikasi antara guru dengan siswa

Ø Dialog/komunikasi antara siswa dengan sumber belajar

Ø Dialog/komunikasi di antara siswa.

Apabila ketiga aspek tersebut bisa diselenggarakan dengan komposisi yang serasi, maka diharapkan akan terjadi proses pembelajaran yang optimal. Kemudian dinyatakan pula bahwa perancangan suatu pembelajaran dengan mengutamakan keseimbangan antara ketiga dialog/komunikasi tersebut sangat penting pada lingkungan pembelajaran berbasis web.(Bottcher,1995)
Secara nyata internet memang dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah, karena memiliki karakteristik yang khas yaitu ;

(1) Sebagai media interpersonal dan juga sebagai media massa yang memungkinkan terjadinya komunikasi one-to-one maupun one-to-many,

(2) Memiliki sifat interaktif, dan

(3) Memungkinkan terjadinya komunikasi secara sinkron (syncronous) maupun tertunda (asyncronous), sehingga memungkinkan terselenggaranya ketiga jenis dialog/komunikasi yang merupakan syarat terselengaranya suatu proses belajar mengajar.

( Purbo, 1996 )

Sebagai dasar untuk memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran di sekolah, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius agar penyelenggaraan pemanfaatan internet untuk pembelajaran bisa berhasil,yaitu:

Ø Faktor Lingkungan

yang meliputi institusi penyelenggara pendidikan dan masyarakat

Ø Siswa atau peserta didik

yang meliputi usia, latarbelakang, budaya, penguasaan bahasa serta berbagai gaya belajar

Ø Guru atau pendidik

Yang meliputi latar belakang, usia, gaya mengajar, pengalaman dan personalitinya

Ø Faktor teknologi

Yang meliputi komputer, perangkat lunak, jaringan, koneksi ke internet dan berbagai kemampuan yang dibutuhkan berkaitan dengan penerapan internet di lingkungan sekolah.


(Hardjito, 2006: )

Menurut Haughey yang dikutip oleh Hardjito mengemukakan ada tiga bentuk sistem pembelajaran melalui Internet yang layak dipertimbangkan sebagai dasar pengembangan sistem pembelajaran dengan mendayagunakan internet yaitu: (1) Web Course, (2) Web Centric Course, dan (3) Web Enhanced Course.

Web Course,

Web Course merupakan penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran, di mana seluruh bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui internet. Siswa dan guru sepenuhnya terpisah, namun hubungan atau komunikasi antara peserta didik dengan pengajar bisa dilakukan setiap saat.

Bentuk pembelajaran model ini biasanya dipergunakan untuk keperluan pendidikan ajarak jauh (distance education/learning). Aplikasi bentuk ini antara lain virtual campus/university, ataupun lembaga pelatihan yang menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti secara jarak jauh dan setelah lulus ujian akan diberikan sertifikat.

Web Centric Course,

Web Centric Course adalah pembelajaran di mana sebagian bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, dan latihan disampaikan melalui internet, sedangkan ujian dan sebagian konsultasi, diskusi dan latihan dilakukan secara tatap muka. ( Heinich , 1996 )

Web Enhanced Course,

Web Enchanced Course yaitu pemanfaatan internet untuk pendidikan, untuk menunjang peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar di kelas. Bentuk ini juga dikenal dengan nama Web lite course, karena kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas.( Purbo ; 1996 )

Peranan internet di sini adalah untuk menyediakan sumber-sumber yang sangat kaya dengan memberikan alamat-alamat atau membuat hubungan (link) ke berbagai sumber belajar yang sesuai yang bisa diakses secara online, untuk meningkatkan

kuantitas dan memperluas kesempatan berkomunikasi antara pengajar dengan peserta didik secara timbal balik. Dialog atau komunikasi tersebut adalah untuk keperluan berdiskusi, berkonsultasi, maupun untuk bekerja secara kelompok. Komunikasi timbal balik bisa dilakukan antara siswa dengan siswa, siswa dengan teman di luar kelas/sekolah, siswa dengan kelompok, siswa dengan guru maupun guru dengan siswa atau dengan kelompok.

Pembelajaran melalui internet di Sekolah Dasar dapat diberikan dalam beberapa format di antaranya adalah:

(1) Electronic mail (delivery of course materials, sending in assignments, getting and giving feedback, using a course listserv., i.e., electronic discussion group,

(2) Bulletin boards/newsgroups for discussion of special group,

(3) Downloading of course materials or tutorials,

(4) Interactive tutorials on the Web, dan

(5) Real time, interactive conferencing using MOO (Multiuser Object Oriented) systems or Internet Relay Chat. (Wulf, 1996),

Penggunaan internet sebagai media pembelajaran di sman 24 bandung

Adapun penggunaan internet sebagai media pembelajaran siswa SMAN 24 Bandung salah satunya dengan diluncurkannya situs pembelajaran online di internet melalui situs resmi www.sman24bdg.com. Melalui website tersebut seluruh siswa serta stackholder dapat menggunakan sarana komunikasi online untuk memenuhi kepentingannya. Situs tersebut mengandung konten atau fasilitas sebagai berikut :

- Agenda

- Album

- Artikel

- Info

- Berita

- Opini

- Link

- Buku Tamu

- Forum

- E-Learning

- Link Blog

- Webmaster

- Peta Situs

( admin sman24bdg.com, 2008 : )

Selain itu, berdasarkan penelitian awal dalam aplikasi klasikal penggunaan internet sebagai media pengajaran di sman 24 Bandung berupa Web Enchanced Course. Para guru tidak sepenuhnya menggunakan internet sebagai media utama dalam proses belajar mengajar, hanya mengarahkan websites tertentu yang mendukung materi pembelajaran sebagai referensi komplementer dari sumber belajar berupa buku teks pelajaran. Dalam pembelajaran keagamaan (PAI) terkadang digunakan pula media audio visual yang terdapat di Laboratorium Multimedia,berupa pemutaran film-film bertema Sains & Religious versi Harun yahya yang di download melalui situs www.harunyahya.com.

Variabel kedua,yaitu prestasi kognitif siswa di sekolah pada bidang studi PAI. Dengan menggunakan teori Nana Sudjana (2002: 22) menjelaskan bahwa “Prestasi belajar atau hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Selanjutnya dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) ( Depdiknas 2001: 895 ) menyatakan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Dari penjelasan diatas sangat jelas bahwa prestasi sangat ditentukan oleh adanya sebuah peran yang bergerak dalam bidang pendidikan.

Keterkaitan antara Variabel X, ( penggunaan internet sebagai Media pembelajaran) dengan Variabel Y, ( prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam) berdasarkan teori Edgar Dale seorang tokoh audio-visual dalam bukunya “Audio-Visual methods in Teaching” mengemukakan teori tentang Kerucut Pengalaman, dimana implikasi proses belajar mengajar akan terealisasi dalam bentuk pengalaman. Pengaruh media yang baik akan berimplikasi pada pola pengalaman belajar siswa serta prestasi kognitif nya dalam menerima materi pembelajaran.

Untuk menumbuhkan prestasi kogntif dalam belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam diperlukan pemilihan media yang tepat berdasarkan kriteria pemilihan Media (Dr.Zakiah Darajat 1996: 36), Kriteria pemilihan ditinjau dari fungsi Media itu sendiri seperti ; a) Media untuk tahap Pengenalan, b) Media untuk tahap Pengembangan, c) Media untuk tahap Pengorganisasian, d) Media untuk tahap Penyimpulan, serta e) Media untuk Evaluasi.

Keseluruhan aspek tersebut tentu mempengaruhi orientasi penggunaan Media. Sedangkan penggunaan internet sebagai sarana pembelajaran siswa dijadikan sebagai wahana eksplorasi sumber/referensi multi dimensi bagi siswa, sehingga wawasan siswa semakin luas.

Dalam Variabel X ( penggunaan internet sebagai Media pembelajaran) indikatornya adalah :

1. Intensitas mengakses bahan ajar dari internet

2. Kemudahan dalam memperoleh bahan ajar dari internet

3. Kemudahan berinteraksi antar sesama siswa

4. Kemudahan berinteraksi antara guru dengan siswa

5. Bimbingan guru kepada siswa untuk memilih situs (websites)

Sedangkan untuk variabel Y (Prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam) indikatornya sebagai berikut;

1. Pengetahuan

2. Pemahaman

3. Penerapan

4. Analisis

5. Sintesis,dan

6. Evaluasi

S K E M A . 1




Penggunaan internet sebagai Media pembelajaran siswa

( X )

Indikator Prestasi kognitif siswa SMAN 24 Bandung pada bid.Studi PAI

( Y )

1. Intensitas akses bahan ajar

2. Kemudahan memperoleh

bahan ajar

3. Kemudahan interaksi

antar sesama siswa

4. Kemudahan interaksi antara

guru dengan siswa

5. Bimbingan guru dalam

memilih situs

1. Pengetahuan

2. Pemahaman

3. Penerapan

4. Analisis

5. Sintesis

6. Evaluasi









RESPONDEN






E. Hipotesis

Hipotesis sering diartikan sebagai jawaban sementara terhadap penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris (Sumardi suryabrata 2000: 69). Jadi hipotesis merupakan kesimpulan sementara dan belum sempurna serta harus melalui jalan pengujian secara empiris.

Salah satu dugaan yang harus diuji dalam penelitian ialah menyangkut satu variabel dengan variabel lainnya. Secara kongkrit, dalam hal ini variabel X (Penggunaan internet sebagai media pembelajaran) dan Variabel Y (Prestasi kognitif siswa SMA Negeri 24 Bandung pada bidang studi Pendidikan Agama Islam). Oleh karena itu hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

H1 : Penggunaan Internet sebagai media pembelajaran siswa ada hubungan

dengan Prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.

H0 : Penggunaan Internet sebagai media pembelajaran siswa tidak ada hubungan

dengan Prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.

F. Langkah-Langkah Penelitian

1. Menentukan Jenis Data

Data merupakan keterangan-keterangan tentang suatu hal,dapat berupa sesuatu yang diketahui atau yang dianggap atau anggapan, atau suatu fakta yang digambarkan lewat angka,simbol,kode, dan lain-lain (M.Iqbal Hasan, 2002:82). Berdasarkan sumber pengambilannya, data dibedakan atas dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan dari sumber asli oleh orang yang melakukan penelitian. (suryana dan priyatna, 2007 :161) data primer ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dan angket. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. ( Subagyo, 1997 : 87)

Berdasarkan sifatnya, data dibedakan atas dua, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk bilangan, sedangkan data kuantitatif adalah data yang berbentuk bilangan.( suryana dan priyatna 2007 : 162). Data kuantitatif berasal dari hasil pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Sedangkan data kualitatif adalah data spesifik yang diarahkan pada pendalaman tentang penggunaan internet sebagai media pembelajaran dan hubungannya dengan prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam. Dilihat dari teknik pengumpulannya, data ini akan diangkat kepada sejumlah responden yang telah ditetapkan sebagai sampel penelitian.

2. Menentukan Sumber Data

Secara umum, penentuan sumber data didasarkan atas jenis data yang telah ditentukan. Setelah jenis data ditentukan, langkah selanjutnya adalah menentukan sumber dari mana data tersebut akan dikumpulkan. Sumber data dapat digolongkan ke dalam sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber data pokok yang langsung dikumpulkan peneliti dari objek penelitian. Sedangkan sumber sekunder adalah sumber data tambahan yang menurut peneliti menunjang data pokok.( priyatna ,2007: 169)

Penelitian sumber data ini berkaitan erat dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Lokasi Penelitian

Dalam Penelitian ini penulis memilih SMAN 24 Kota Bandung sebagai lokasi penelitian, karena di sekolah tersebut terdapat permasalahn yang menarik untuk di teliti. SMA Negeri 24 Bandung terletak di Jl. A.H.Nasution.No.27 Ujungberung Kota Bandung dan merupakan SMA terfavorit di wilayah Bandung Timur.

b. Menentukan Populasi Sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1996: 115). Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah kelas X yang berjumlah 125 orang. Kelas XI sebanyak 78 Orang, serta kelas XII sebanyak 45 orang. Jumlah total keseluruhan adalah 272 orang. Sampel menurut Suharsimi Arikunto (1996:117) yaitu sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Besarnya sampel yang dapat diambil apabila subjeknya lebih dari 100 orang, maka sampel dapat diambil 10 – 16 % atau 20 – 25 % atau lebih sesuai dengan kemampuan peneliti. Jika populasi kurang dari 100, maka keseluruhannya dijadikan sampel. Sehubungan dengan itu populasi yang ada di SMA Negeri 24 Bandung terdapat 272 siswa. Penulis mengambil sampel penelitian sebanyak 25 % dari jumlah populasi yakni sebanyak 60 orang.

3. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data yang objektif, valid dan reliabel, sehingga dapat digunakan untuk memahami,memecahkan dan mengantisipasi masalah dalam bidang tertentu. ( priyatna 2007 : 100 )

Metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif, yaitu metode yang diarahkan kepada suatu usaha pemecahan dengan cara memaparkan atau menggambarkan hasil penelitian apa adanya melalui pengumpulan data, analisis data, serta penyimpulan-penyimpulan terhadap data yang akan dianalisis. (surachmad, 1990 : 160)

4. Teknik pengumpulan Data

Dalam teknik pengumpulan data ini, penulis menggunakan teknik-teknik sebagai berikut :

a. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala-gejala subjek yang diamati (Winarno Surachmad, 1990: 162), melalui observasi ini diharapkan penulis dapat memperoleh gambaran jelas tentang kondisi SMA Negeri 24 Bandung.

b. Wawancara

Wawancara (interview) adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapat jawaban dari responden dengan jalan Tanya jawab sepihak (Suharsimi Arikunto 1996:72). Wawancara ini ditujukan kepada Kepala sekolah, Guru Bidang Studi, Pengelola laboratorium komputer dan Perpustakaan, serta Siswa-siswi SMA Negeri 24 Bandung.

c. Angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan komunikasi langsung dengan responden, yaitu 60 siswa, bentuk angketnya, yaitu berupa tulisan, yang penulis gunakan atas skala penilaian dengan lima alternatif jawaban. Materi angket berkaitan dengan indicator dari kedua variabel. Dilihat dari teknik penskorannya, dari alternatif jawaban. Diurutkan mulai dari kemungkinan terendah. Pada pihak lain dipertimbangkan pula antara item angket yang berorientasi positif dan negatif. Untuk memberikan skor pada tiap alternatif jawaban, R. Likert yang dikutip oleh Wayan Nurkancana dan Sumartana (1992: 281) memberikan batasan sebagai berikut :

Untuk statemen yang positif pilihan sangat setuju skornya 5, stuju skornya 4, ragu-ragu skornya 3, tidak stuju skornya 2, dan sangat tidak setuju skornya 1, untuk negatif sistem skornya adalah sebaliknya.

d. Tes

Tes digunakan untuk mengukur prestasi siswa dalam bidang Pendidikan Agama Islam. Tes ini diberikan kepada siswa yang dijadikan sample bentuk tes lembaran soal tertulis pilihan ganda dengan materi yang berhubungan dengan penelitian.

e. Studi Kepustakaan

Guna menunjang optimalisasi hasil penelitian digunakan beberapa buku penunjang, artikel dan jurnal internet, serta bahan-bahan komplementer lain yang erat kaitannya dengan permasalahan yang sedang diteliti. Penulis mencari dan berupaya mendayagunakan informasi yang terdapat dalam berbagai media. Dengan teknik ini diharapkan memperoleh teori atau konsep yang erat hubungannya dengan masalah hubungan penggunaan internet sebagai media pembelajaran dengan prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam.

5. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan dua cara pendekatan analisis untuk data kualitatif, dan analisis statistik untuk data kuantitatif,yang langkah-langkahnya adalah sebagai berikut;

a. Analisis Parsial

Analisis parsial dilakukan untuk mencari nilai masing-masing variabel penelitian. Mengacu pada Nana Sudjana (2004:114) penulis menggunakan langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:

1. Menentukan rentang nilai ( R ) dengan menggunakan rumus :

R = (Xt – Xr) + 1

2. Menentukan banyak kelas interval kelas (BK) dengan menggunakan

rumus :

BK = 1 + 3,33 log n

3. Menentukan panjang kelas (P) dengan mengemukakan rumus :

P = R : BK

4. Menentukan table distribusi frekuensi variabel X

5. Menentukan nilai rata-rata atau mean (X) dengan menggunakan rumus :

X = Σ fi . Χi : Σ fi

1. Menentukan Nilai Median (Md) dengan menggunakan rumus :

Md = b + p ( ½ - fk)

Fd

2. Menentukan nilai Modus (Mo) dengan menggunakan rumus :

Mo = b + p ( bi )

bi + b2

3. Menghitung standar deviasi (SD) dengan menggunakan rumus :

SD = √ n ∑ fi .χi2 - ( fi .χi ) 2

n ( n – 1 )

4. Menentukan Chi kuadran yang dengan menguji distribusi frekwensi dari

data yang didapat dengan nilai chi kuadrat (X2 ) dengan menggunakan

rumus :

X2 = Σ (oi – Ei) 2

E i

5. Menentukan derajat kebebasan (dk) dengan nilai Chi kuadrat dengan

rumus :

dk = K – 3

6. Menentukan nilai Chi Kuadran dengan nilai signifikasi 0,05

7. Menginterpretasi hasil pengujian normalitas dengan ketentuan :

a. Data dikatakan normal jika Chi Kuadran hitung lebih kecil daripada

chi kuadran tabel.

b. Data dikatakan tidak normal jika chi kuadran hitung lebih besar

daripada harga chi kuadran tabel.

b. Uji Linearitas regresi

Jika antara variabel berdistribusi normal, maka selanjutnya dilakukan uji linearitas dan jika uji linearitas ternyata datanya berdistribusi product moment maka dilakukan uji korelasi product moment. Namun salah satu dari keduanya berdistribusi tidak normal, tidak perlu dilakukan uji linearitas dan rumus korelasipun menggunakan rumus korelasi tata jenjang.

1. Menentukan ada dan tidaknya hubungan yang ditujukan oleh persamaan

regresi model linear seperti yang dijelaskan oleh Sudjana yang berbentuk

Y = a + bx

2. Dengan koefisien (a) dan (b) diperoleh rumus :

a = (∑ Yi) (∑ X2) – ( ( ∑ Xi) ( ∑ Yi) )

n ∑ Xi2 – (∑ Xi2)

b = n ∑ Xi . Yi – (∑ Xi) (∑ Yi)

n ∑ Xi 2 – (∑ Xi) 2

Catatan :

X sebagai Variabel pertama dan Y sebagai Variabel kedua. Sesuai dengan ketentuannya, uji signifikansi linearitas regresi dilakukan dengan menggunakan nilai F yang diperoleh dengan rumus :

F = S2te – S 2te

Kriteria :

Jika ternyata F hitung lebih kecil dari F daftar dengan taraf signifikansi 0,05 maka diasumsikan bahwa persamaan regresi model linier yang diajukan itu signifikan.

( Sudjana 2004 : 115)

c. Analisis Korelasional

Analisis ini dimaksudkan untuk menentukan keterkaitan antara dua variabel yang diteliti. Adapun prosedur yang dipergunakan adalah sebagai berikut:

(1). Menentukan besarnya koefisien korelasi dengan ketentuan sebagai berikut :

- Jika kedua variabel berdistribusi normal dan regresinya linier,koefisien korelasi dicari dengan menggunakan rumus korelasi produc moment .

- Jika salahsatu dari kedua variabel berdistribusi tidak normal atau :

n ∑ Xi . Yi – (∑Xi) (∑Yi)

√ n ∑ Xi 2 – ((∑Xi) 2 . n (∑ Xi2) – (∑Yi) 2

Jika regresinya tidak linier, maka koefisien korelasi dicari dengan rumus korelasi rank.

R = 1 – 6 ∑bi2

N (n2-1)

(2) Uji Signifikansi koefisien korelasi dengan menggunakan nilai t yang diperoleh dengan rumus :

T = r √ n – 2

√ 1 – r

(3) Untuk menentukan derajat korelasi, maka hasil korelasi akan dicocokan dengan tingkat korelasi berikut ini:

0,00 – 0,20 hampir tidak ada korelasi

0,21 – 0,40 Korelasi rendah

0,41 – 0,60 Korelasi rendah

0,61 – 0,80 Korelasi Tinggi

0,81 – 1,00 Korelasi Sempurna

Adapun skala nilai yang digunakan untuk mengetahui tinggi rendahnya hubungan penggunaan internet sebagai media pembelajaran dengan prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam maka didasarkan pada identifikasi skala sebagai berikut:

0,5 – 1,5 = Sangat Rendah

1,5 – 2,5 = Rendah

2,5 – 3,5 = Cukup

3,5 – 4,5 = Sangat Tinggi

(4) Uji pengaruh antara Variabel X terhadap Variabel Y yaitu:

E = 100 Dengan,

K = √ 1 – r

E = efisien ramalan pengaruh

K = Derajat tidak adanya korelasi

( Sudjana, 2004 : 117)

Setelah proses interpretasi ini dilanjutkan dengan analisis korelasional untuk menentukan keterkaitan antara dua variabel yang diteliti, yaitu penggunaan internet sebagai media pembelajaran dan prestasi kognitif siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam. []

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid dan Dian Andayani,

2004 Pendidikan Agama Islam berbasis kompetensi, Bandung : Remaja Rosda karya

AECT.

1977. The Definition of Educational technology. Edisi Indonesia diterbitkan CV.Rajawali dengan judul definisi teknologi pendidikan (seri pustaka teknologi pendidikan.No.7)

A.Hasan Gaos,

1992 Dasar-dasar statistika pendidikan, Fakultas tarbiyah IAIN.Bandung

A.Hamzah Suleiman,

1985. Media Audio-Visual. Jakarta : Penerbit Gramedia

Allison Rossett,

2002. The ASTD E-Learning Handbook, McGraw-Hill Companies Inc,

New York, USA.

Anas Sudiono,

1997 Pengantar statistik pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada

Arief S. Sadiman, dkk.

1986. Media Pendidikan, Pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya. Jakarta : Rajawali Press.

Asep Herman Suyanto

2005 “Mengenal e-learning”, http://www.asep-hs.web.ugm.ac.id

Courland Bovee,

1997. Business Communication Today, Prentice Hall: New York.

Djoko Subagyo,

1998.Metode penelitian dalam teori dan praktek, Jakarta : Rhineka cipta

Douglas H Brown,

1994. Principles of Language Learning and Teaching, Prentice Hall Regents:

New Jersey.

Harry B. Santoso,

2007. “E-Learning: Belajar Kapan Saja, Dimana Saja” http: //ilmukomputer.com

Jarot Priyogutomo, dan B.S.D. Oetomo,

2004. Kajian Terhadap Model e-Media dalamPembangunan Sistem e-Education, Makalah Seminar Nasional Informatika 2004 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta pada 21 Februari 2004.

Junaidi Utomo,

2001. Dampak Internet Terhadap Pendidikan : Transformasi atau Evolusi, Seminar Nasional Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 7 April 2001

Maryati,

2007. Dalam makalah berjudul “Peran Pendidik Dalam Proses Belajar Mengajar Melalui Pengembangan E-Learning” disampaikan dalam Pelatihan Jardiknas 2007

Maman supriatman,dkk.

1997. Metode penelitian pendidikan, Pusat penelitian dan pengembangan pendidikan islam: Cirebon

Maman Sumantri

2004. “Implementasi E-learning di Teknik Elektro FT UNDIP”. Transmisi. Vol8. No.2. Desember 2004 : 28 – 30.

Mohammad Ali,

1982 Pengantar penelitian Ilmu pendidikan, Bandung : Transito

Moh.Nasir.

1988 Metode Penelitian, Jakarta : Galia Indonesia

Muhammad adri,

2008. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pengembangan media pembelajaran http://ilmukomputer.com/wp-content/uploads/2008/01/adri-multimedia-pengajaran.pdf

Nana Sudjana.

2004. Dasar-dasar proses belajar mengajar, Sinar Baru Algensindo.Bandung

Nana sudjana & Ibrahim,

1989. Penelitian dan penilaian pendidikan.Sinarbaru algensindo.Bandung

Nana Syaodih,

2005, Metode penelitian pendidikan. Remaja rosdakarya.Bandung

Oemar Hamalik,

1986. Media Pendidikan. Bandung : Penerbit Alumni

Ouda Teda ena,

2008 Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi

http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/OudaTedaEna.doc

Robert A.Reseir dan Robert M.Gagne.

1982. Characteristics of Media selection models. Dalam review of educational research,winter 1982,vol52.no.4

Romi Satria Wahana,

2005 “Pengantar E-Learning dan Pengembangannya”, http: //ilmukomputer.com

Rusman,

2007. komputer sebagai media pembelajaran

http://209.85.165.104/custom?q=cache:EB4B5cfcK6cJ:www.geocities.com/no_vyant/Ss_inisiasi_sem2/Inisiasi_Komputer_dan_Media_Pendidikan_5_Edit.pdf+media+pembelajaran+siswa&hl=en&ct=clnk&cd=25&client=pub-2108471685316861

Syaiful B Djamarah, dan Aswan Zain,

(2002) Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

SISDIKNAS

2003. Undang-undang No.20 Tahun 2003, Fokus Media.Bandung

Soekartawi,

2003, e-Learning di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang, Makalah Seminar Nasional ‘e-Learning perlu e-Library’ di Universitas Petra Surabaya pada 3 Februari 2003.

Slameto

1988 Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi, Rineka, Cipta, Jakarta

Sudarto.

1996 Metodologi penelitian filsafat, Raja Grafindo persada.Jakarta

Suharsimi arikunto,

2002 Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, Rhineka Cipta. Jakarta

Sumadi suryabrata.

1983. Metode penelitian, Rajawali press: Jakarta

Sumanto.

1995. Metodologi penelitian sosial dan pendidikan,aplikasi metode kuantitatif dan statistika dalam penelitian, Andi offset . Jogjakarta

Surendro,

2004. Pengembangan Aplikasi Learning Content Management System untukMendukung Proses Pembelajaran Jaraj Jauh. Makalah Seminar Nasional Informarika 2004di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta pada 21 Februari 2004.

Tri Indri Hardini,

2007. Pembelajaran Elektronik (e-learning) alternative pembelajaran bahasa, http://www.apfi-pppsi.com/candence22/cadence22-8.html

Warto adi nugraha.

2008, e-learning vs i-learning penyempitan makna e-learning dan penggunaan istilah internet learning.

http: //ilmukomputer.com/wp-content/uploads/2007/11/warto-e-learning.doc

Yaya Suryana &Tedi Priatna,

2007. Metode penelitian pendidikan , Bandung : Azkia pustaka utama

Yusuf hadi miarso.

t.t. Media intruksional. pusat TKPK, Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

Tidak ada komentar: